Masjid Nurul Haq

Masjid Nurul Haq dibangun dengan biaya swadaya dari Masyarakat RW. 09 Blok Rawalumbu, Bekasi, tempat ibadah warga RW. 09 terletak di antara RT. 4, RT 5 dan RT. 6. Kegiatan Majelis Taqlim Bapak-Bapak, Ibu-Ibu RW. 09 dan Tempat TPA bagi anak-anak...

Dzikir-dzikir setelah Sholat

Di dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah diterangkan tentang keutamaan berdzikir kepada Allah, baik yang sifatnya muqayyad (tertentu dan terikat) yaitu waktu .....

Tafsir Surah At-Tin

Pada ayat pertama surat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala bersumpah dengan At Tin dan Az Zaitun.

Hargai Waktu, Jangan Abaikan Akhiratmu

DALAM Islam, waktu itu adalah amal sholih. Waktu itu bukanlah uang seperti kata sebuah adagium, time is money. Di sini, amal sholih menjadi tujuan utama, bukan materi. Bukan berarti Islam anti-uang. Akan tetapi yang lebih tepat kita katakan, uang/materi menjadi sarana untuk beramal sholih, bukan tujuan utama (big goal). Jika uang menjadi big goal, maka materialisme menjadi pemahaman kita. Adagium “time is money”, adalah prinsip kaum materialism. .....

Inilah Wahhabi Sesungguhnya..!!!

Wajib diketahui oleh setiap kaum Muslimin dimanapun mereka berada bahwasanya firqoh Wahabi adalah Firqoh yang sesat, yang ajarannya sangat berbahaya bahkan wajib untuk dihancurkan. Tentu hal ini membuat kita bertanya-tanya, mungkin bagi mereka yang PRO akan merasa marah dan sangat tidak setuju, dan yang KONTRA mungkin akan tertawa sepuas-puasnya.. Maka siapakah sebenarnya Wahabi ini??

Tampilkan postingan dengan label Tafsir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tafsir. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Februari 2012

TAFSIR SURAT AT TIIN

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

TAFSIR SURAT AT TIIN

وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ {1} وَطُورِ سِينِينَ {2} وَهَذَا الْبَلَدِ الْأَمِينِ {3} لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ {4} ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ {5} إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ {6} فَمَا يُكَذِّبُكَ بَعْدُ بِالدِّينِ {7} أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ {8}‏

(1) Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun.
(2) Dan demi Bukit Sinai.
(3) Dan demi kota (Mekkah) ini yang aman.
(4) Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.
(5) Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka).
(6) Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.
(7) Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu?
(8) Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya? Surat yang mulia ini adalah makkiyah[1].

Pada ayat pertama surat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala bersumpah dengan At Tin dan Az Zaitun[2]. Para ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan At Tin dan Az Zaitun[3], namun tidak ada satupun pendapat mereka yang berdasar pada dalil yang shahih,[4] kecuali pendapat yang mengatakan bahwa At Tin adalah buah At Tin yang (sudah dikenal dan) biasa dimakan, dan Az Zaitun adalah (juga) buah Az Zaitun yang biasa diperas darinya minyak Zaitun.[5] Hal ini sesuai dengan sebuah riwayat yang telah dikeluarkan oleh Al Hakim dengan sanadnya, dari Ibnu Abbas tentang firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ

Beliau berkata:

الفَاكِهَةُ الَّتِيْ يَأْكُلُهَا النَّاسُ

“Buah yang (biasa) dimakan orang-orang”.[6]

Demikian pula Al Bukhari di dalam shahihnya,[7] membawakan perkataan Mujahid yang serupa dengan perkataan Ibnu Abbas ini.

Pada ayat berikutnya Allah Subhanahu wa Ta’ala bersumpah dengan Thuur Siiniin, yaitu sebuah bukit yang padanya Allah Subhanahu wa Ta’ala berbicara kepada Musa ‘alaihissalam .[8]

Dan berikutya Allah bersumpah dengan Al Balad Al Amin, yaitu Makkah.[9]

Lalu, mengapa Allah Subhanahu wa Ta’ala bersumpah dengan hal-hal tersebut? Para ulama tafsir menerangkan sebab-sebabnya yang diantaranya; karena kedua tumbuhan tersebut (At Tin dan Az Zaitun) banyak mengandung manfaat, baik pada pohonnya maupun buahnya, dan karena keduanya sangat tumbuh subur dan baik di Syam, yang merupakan tempat diutusnya Nabi Isa ‘alaihissalam menjadi seorang rasul. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala bersumpah dengan sebuah bukit, karena di tempat itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala berbicara kepada Nabi Musa dan mengutusnya menjadi seorang rasul. Adapun mengapa Allah bersumpah dengan Al Balad Al Amin? Itu karena Mekkah adalah sebuah negeri yang aman bagi orang memasukinya, juga karena di tempat itulah Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus menjadi seorang rasul. dari sini, jelaslah mengapa Allah Subhanahu wa Ta’ala bersumpah dengan hal-hal tersebut? Itu karena ketiga tempat tersebut adalah tempat-tempat yang disucikan yang Ia pilih, dan telah diutus padanya rasul-rasulNya yang paling mulia.[10]

Ayat berikutnya adalah jawaban dari sumpahNya terhadap hal-hal tadi,[11] bahwa sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menciptakan manusia dalam bentuk dan sifat yang sebaik-baiknya, dengan seluruh anggota tubuh yang seimbang, sempurna, dan tidak kekurangan suatu apapun. Dan semuanya itu menunjukkan atas kekuasaan Allah yang mutlak atas penciptaan dan pengembalian manusia pada hari kebangkitan.[12]

Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ . إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ

“Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih, maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya”

Pada ayat pertama dari kedua ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala menerangkan tentang keadaan kebanyakan manusia yang kufur terhadap nikmat yang telah Ia berikan kepadanya berupa bentuk fisik yang sempurna dan baik. Maka sudah sewajibnya seorang manusia bersyukur atas nikmat ini, namun justru kebanyakan manusia lalai dan lupa terhadap penciptanya yang telah memberikan kenikmatan-kenikmatan yang tak terbilang, mereka sibuk dengan bermain-main dan hal-hal yang melalaikan mereka. Mereka ridha dengan perkara-perkara rendah dan akhlak-akhlak buruk yang merusak diri mereka sendiri. Akhirnya Allahpun mengembalikan mereka ke dalam neraka yang paling bawah, tempatnya ahli maksiat yang membangkang dan menentang perintah-perintah Allah.[13] Kecuali orang-orang yang beriman, yang telah diberikan oleh Rabb mereka keutamaan berupa keimanan, amal yang shalih, dan akhlak yang tinggi dan mulia. Maka bagi mereka derajat yang tinggi di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan pahala dariNya yang tiada henti-hentinya terus mengalir kepada mereka dan tanpa terputus. Bahkan mereka terus mendapatkan kelezatan-kelezatan yang terus-menerus, kebahagiaan yang tiada habis-habisnya, dan kenikmatan-kenikmatan tak terhingga yang abadi dan kekal selama-lamanya.[14]

Pada ayat berikutnya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَمَا يُكَذِّبُكَ بَعْدُ بِالدِّينِ

“Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu?”

Pada ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala bertanya dan menegaskan kembali kepada manusia yang telah diciptakan dalam sebaik-baik bentuk, sempurna dan utuh tanpa kekurangan suatu apapun, namun di antara manusia masih ada yang kufur terhadap nikmat-nikmat Rabbnya dan ingkar terhadap hari pembalasan,”Apa yang membuatmu dan menyebabkanmu wahai anak Adam mendustakan dan mengingkari hari pembalasan terhadap seluruh amal perbuatan, padahal kamu telah mengetahui kekuasaan Rabbmu yang mampu menciptakanmu dengan baik dan sempurna? Bukankah Ia yang telah menciptakanmu jauh lebih mampu untuk menghidupkanmu kembali dan membalas amal-amalmu? Apa yang membuatmu mendustakan semua ini sedangkan kamu mengetahui kebenarannya?[15]

Dan di akhir surat At Tiin ini Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ

“Bukankah Allah Hakim yang seadil-adilnya?”

Allah Subhanahu wa Ta’ala kembali bertanya dalam ayat ini yang maknanya, “Apakah adil dan sesuai dengan hikmahNya jika Ia menciptakan makhlukNya untuk kemudian dibiarkan dan ditinggalkan begitu saja tanpa diperintah dan dilarang, dan tanpa diberikan balasan baik ataupun buruk? Ataukah sesuai keadilan dan hikmahNya itu, jika Ia Yang Maha Pencipta dengan tahapan demi tahapan penciptaan, kemudian Ia memberikan seluruh nikmat-nikmatNya yang tiada terbilang, lalu membimbing mereka dengan bimbingan yang baik dan bijaksana, dan akhirnya Ia mengembalikan mereka kepada tujuan dan inti kehidupan mereka, yaitu akhirat yang kepadanyalah orang-orang beriman menuju?”[16]

Ada sebuah hadits yang erat kaitannya dengan ayat terakhir ini. Yang mungkin hadits ini dijadikan hujjah oleh sebagian mereka yang beranggapan akan sunnahnya hukum membaca lafazh (بَلَى، وَأَنَا عَلَى ذَلِكَ مِنَ الشَّاهِدِيْنَ), atau lafazh (سُبْحَانَكَ فَبَلَى) tatkala seseorang membaca surat At Tiin ini sampai pada penghujung ayatnya.

Hadits ini dikeluarkan oleh Abu Dawud, At Tirmidzi, Ahmad, dan lain-lainnya[17]dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu , beliau berkata:

مَنْ قَرَأَ : وَالتِّيْنِ وَالزَّيْتُوْنِ ، فَقَرَأَ : أَلَيْسَ اللهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِيْنَ ، فَلْيَقُلْ : بَلَى ، وَأَنَا عَلَى ذَلِكَ مِنَ الشَّاهِدِيْنَ .

“Barangsiapa yang membaca ‘Wat tiini waz Zaituun’ sampai ia membaca ‘Alaisallaahu bi Ahkamil Haakimiin’ ; maka hendaknya ia mengucapkan: ‘Balaa Wa Ana ‘Alaa Dzaalika minasy Syaahidiin’ (Ya, dan aku atas hal itu termasuk orang-orang yang bersaksi).”[18]

Namun hadits ini dha’if, sebagaimana yang telah dihukumi oleh Asy Syaikh Al Albani[19], disebabkan pada sanadnya terdapat perawi (dan ia bukan seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam -pen) yang mubham.[20]

Adapun ayat yang disunnahkan padanya untuk dibacakan lafazh-lafazh tadi atau yang semakna dengannya, adalah ayat terakhir pada surat Al Qiyamah, yaitu:

أَلَيْسَ ذَلِكَ بِقَادِرٍ عَلَى أَن يُحْيِيَ الْمَوْتَى .

“Bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?”[Al Qiyamah: 40].

Hal ini berdasarkan hadits lain yang dikeluarkan oleh Abu Dawud[21] dengan sanadnya dari Musa bin Abi A’isyah, ia berkata:

كَانَ رَجُلٌ يُصَلِّي فَوْقَ بَيْتِهِ ، وَكَانَ إِذَا قَرَأَ : أَلَيْسَ ذَلِكَ بِقَادِرٍ عَلَى أَنْ يُحْيِيَ الْمَوْتَى ، قَالَ: سُبْحَانَكَ فَبَلَى، فَسَأَلُوْهُ عَنْ ذَلِكَ، فَقَالَ : سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

“Ada seseorang yang melakukan shalat di atas rumahnya, dan apabila ia membaca (Alaisa Dzaalika bi Qaadirin ‘Alaa Ay Yuhyiyal Mawtaa), ia berkata (setelahnya): Subhaanaka Fa Balaa (Ya dan Maha Suci Engkau). (Lalu) mereka menanyakan tentang hal ini kepada orang tersebut, (dan) iapun berkata: Aku telah mendengarnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Berkenaan dengan hadits ini, Al Hafizh Ibnu Katsir berkata: “Abu Dawud telah menyendiri dalam periwayatan hadits ini, dan (pada sanadnya) ada perawi shahabi[22] yang tidak disebutkan namanya, namun ini tidak bermasalah.”[23]

Asy Syaikh Al Albani berkata pula: “(Hadits ini) dikeluarkan oleh Abu Dawud dengan sanad yang shahih, dari seseorang, yang ia adalah shahabi,[24] dan jahaalahnya[25] tidak bermasalah, sebagaimana yang sudah diketahui (akan hal ini) oleh ulama. Oleh karena itu, aku keluarkan hadits ini di dalam Shahih Sunan Abi Dawud (no. 827).”[26]

Demikian tafsir singkat surat At Tiin ini, mudah-mudahan menjadi penambah ilmu yang bermanfaat bagi penulis dan yang membacanya.

Wallahu a’lam bish shawaab.



Penulis: Ustadz Abu Abdillah Arief Budiman bin Usman Rozali
Sumber : www.UstadzArif.com

Jumat, 10 Februari 2012

Tafsir Surat al Ikhlas

Tafsir Surat al Ikhlash

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ


قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ {1} اللَّهُ الصَّمَدُ {2} لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ {3} وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُواً أَحَدٌ {4}‏




(1) Katakanlah, “Dialah Allah, Yang Maha Esa.


(2) Allah adalah Tuhan yang bergantung kepadaNya segala sesuatu.


(3) Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan,


(4) dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.” 



Surat yang mulia ini adalah makkiyah[1].

Berkaitan dengan asbab nuzul (sebab turunnya) surat ini, ada sebuah riwayat atau hadits yang hasan,[2] dari hadits Ubay bin Ka’ab t, beliau berkata:



أَنَّ المُشْرِكِيْنَ قَالُوا لِرَسُوْلِ اللهِ r: اِنْسِبْ لَنَا رَبَّكَ، فَأَنْزَلَ اللهُ: ]قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ. اللهُ الصَّمَدُ[، فَالصَّمَدُ: الَّذِيْ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ، لأَنَّـهُ لَيْسَ شَيْءٌ يُوْلَدُ إِلاَّ سَيَمُوْتُ، وَلاَ شَيْءٌ يَمُوْتُ إِلاَّ سَيُوَرِّثُ، وَإِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَمُوْتُ وَلاَ يُوَرِّثُ، ]وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُواً أَحَدٌ[، قَالَ: لَمْ يَكُنْ لَهُ شَبِيْهٌ وَلاَ عَدْلٌ وَلَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ.

“Sesungguhnya orang-orang musyrik (pernah) berkata kepada Rasulullah r: “Sifatkan/beritahu kepada kami (tentang) Rabbmu”, maka Allah menurunkan:

]قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ. اللهُ الصَّمَدُ[

Maka, ash Shamad (الصَّمَدُ), ialah Yang tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Karena tiada sesuatu pun yang dilahirkan melainkan ia (pasti) akan mati, dan tiada sesuatu pun yang mati melainkan ia mewariskan, sedangkan Allah tidak akan mati dan tidak mewariskan. (Dan firmanNya):

]وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُواً أَحَدٌ[

(Ubay bin Ka’ab t) berkata: “Tidak ada (sesuatu pun) yang serupa dan semisal[3] denganNya, dan tidak ada sesuatu pun yang sama/semisal denganNya”.”[4]

Juga ada beberapa riwayat lainnya yang menerangkan asbab nuzul (sebab turunnya) surat ini, seperti hadits Ibnu ‘Abbas, Abdullah bin Salam, Anas bin Malik, Said bin Jubair, dan Abu Hurairah -radhiyallahu ‘anhum-. Demikian pula atsar-atsar dari Ikrimah, Abu al ‘Aliyah, Qatadah, Abu Sa’id ash Shan’ani, dan adh Dhahhak -rahimahumullah-. Namun, seluruh sanadnya berkisar antara dha’if (lemah) dan dha’ifun jiddan (lemah sekali).[5]

Adapun keutamaan surat yang mulia ini,[6] maka ada hadits-hadits shahih yang menerangkannya, di antaranya:



A. HADITS-HADITS YANG MENERANGKAN KEUTAMAANNYA SECARA UMUM



1. Hadits A’isyah -radhiyallahu ‘anha-, beliau berkata:



أَنَّ النَّبِيَّ r بَعَثَ رَجُلاً عَلَى سَرِيَّةٍ، وَكَانَ يَقْرَأُ لأَصْحَابِهِ فِي صَلاَتِهِ، فَيَخْتِمُ بِـ ]قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ[، فَلَمَّا رَجَعُوا، ذَكَرُوا ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ r، فَقَالَ: ((سَلُوْهُ، لأَيِّ شَيْءٍ يَصْنَعُ ذَلِكَ؟))، فَسَأَلُوْهُ، فَقَالَ: لأَنَّهَا صِفَةُ الرَّحْمَنِ، وَأَنَا أُحِبُّ أَنْ أَقْرَأَ بِهَا، فَقَالَ النَّبِيُّ r: ((أَخْبِرُوْهُ أَنَّ اللهَ يُحِبُّهُ)).

“Bahwa Nabi r mengutus seseorang kepada sekelompok pasukan, dan orang itu membaca di dalam shalatnya ketika mengimami yang lainnya, dan mengakhiri (bacaannya) dengan [قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ]. Maka, tatkala mereka kembali pulang, mereka menceritakan hal itu kepada Rasulullah r, lalu beliau pun bersabda: “Tanyalah ia, dengan sebab apa ia berbuat demikian?”, lalu mereka bertanya kepadanya. Ia pun menjawab: “Karena surat ini (mengandung) sifat Ar Rahman, dan aku mencintai untuk membaca surat ini”. Lalu Nabi r bersabda: “Beritahu dia bahwa Allah pun mencintainya”.”[7]



2. Hadits Anas bin Malik t, beliau berkata:



كَانَ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ يَؤُمُّهُمْ فِي مَسْجِدِ قُبَاءٍ، وَكَانَ كُلَّمَا اِفْتَتَحَ سُوْرَةً يَقْرَأُ بِهَا لَهُمْ فِي الصَّلاَةِ مِمَّا يَقْرَأُ بِهِ، اِفْتَتَحَ ]قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ[، حَتَّى يَفْرَغَ مِنْهَا. ثُمَّ يَقْرَأُ سُوْرَةً أُخْرَى مَعَهَا، وَكَانَ يَصْنَعُ ذَلِكَ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ. فَكَلَّمَهُ أَصْحَابُهُ، فَقَالُوا: إِنَّكَ تَفْتَتِحُ بِهَذِهِ السُّوْرَةِ، ثُمَّ لاَ تَرَى أَنَّهَا تُجْزِئُكَ حَتَّى تَقْرَأَ بِأُخْرَى، فَإِمَّا تَقْرَأُ بِهَا، وَإِمَّا أَنْ تَدَعَهَا وَتَقْرَأَ بِأُخْرَى. فَقَالَ: مَا أَنَا بِتَارِكِهَا، إِنْ أَحْبَبْتُمْ أَنْ أَؤُمَّكُمْ بِذَلِكَ فَعَلْتُ، وَإِنْ كَرِهْتُمْ تَرَكْتُكُمْ. وَكَانُوا يَرَوْنَ أَنَّهُ مِنْ أَفْضَلِهِمْ، وَكَرِهُوا أَنْ يَؤُمَّهُمْ غَيْرُهُ. فَلَمَّا أَتَاهُمْ النَّبِيُّ r أَخْبَرُوْهُ الخَبَرَ، فَقَالَ: ((يَا فُلاَنُ، مَا يَمْنَعُكَ أَنْ تَفْعَلَ مَا يَأْمُرُكَ بِهِ أَصْحَابُكَ؟ وَمَا يَحْمِلُكَ عَلَى لُزُوْمِ هَذِهِ السُّوْرَةِ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ؟)) فَقَالَ: إِنِّي أُحِبُّهَا، فَقَالَ: ((حُبُّكَ إِيَّاهَا أَدْخَلَكَ الْجَـنَّةَ)).

“Seseorang (sahabat) dari al Anshar mengimami (shalat) mereka (para shahabat lainnya) di Masjid Quba. Setiap ia membuka bacaan (di dalam shalatnya), ia membaca sebuah surat dari surat-surat (lainnya) yang ia (selalu) membacanya. Ia membuka bacaan surat di dalam shalatnya dengan [قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ], sampai ia selesai membacanya, kemudian ia lanjutkan dengan membaca surat lainnya bersamanya. Ia pun melakukan hal demikan itu di setiap raka’at (shalat)nya. (Akhirnya) para sahabat lainnya berbicara kepadanya, mereka berkata: “Sesungguhnya kamu membuka bacaanmu dengan surat ini, kemudian kamu tidak menganggap hal itu telah cukup bagimu sampai (kamu pun) membaca surat lainnya. Maka, (jika kamu ingin membacanya) bacalah surat itu (saja), atau kamu tidak membacanya dan kamu (hanya boleh) membaca surat lainnya”. Ia berkata: “Aku tidak akan meninggalkannya, jika kalian suka untuk aku imami kalian dengannya maka aku lakukan, namun jika kalian tidak suka, aku tinggalkan kalian”. Dan mereka telah menganggapnya orang yang paling utama di antara mereka, sehingga mereka pun tidak suka jika yang mengimami (shalat) mereka adalah orang selainnya. Maka tatkala Nabi r mendatangi mereka, mereka pun menceritakan kabarnya, lalu ia bersabda: “Wahai fulan, apa yang menghalangimu untuk melakukan sesuatu yang telah diperintahkan para sahabatmu? Dan apa pula yang membuatmu selalu membaca surat ini di setiap raka’at (shalat)?”, ia berkata: “Sesungguhnya aku mencintai surat ini”, lalu Rasulullah r bersabda: “Cintamu kepadanya memasukkanmu ke dalam surga”.”[8]



B. HADITS-HADITS YANG MENERANGKAN BAHWA SURAT INI SEBANDING DENGAN SEPERTIGA AL QUR’AN



1. Hadits Abu Sa’id al Khudri t, ia berkata:



أَنَّ رَجُلاً سَمِعَ رَجُلاً يَقْرَأُ: ]قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ[ يُرَدِّدُهَا، فَلَمَّا أَصْبَحَ جَاءَ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ r، فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ، وَكَأَنَّ الرَّجُلَ يَتَقَالُّهَا، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ r: ((وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ، إِنَّهَا لَتَعْدِلُ ثُلُثَ القُرْآنِ)).

“Bahwa seseorang mendengar orang lain membaca [قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ] dengan mengulang-ulangnya, maka tatkala pagi harinya ia mendatangi Rasulullah r dan menceritakan hal itu kepadanya, dan seolah-olah orang itu menganggap remeh surat itu. Maka bersabdalah Rasulullah r: “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangannya, sesungguhnya surat itu sebanding dengan sepertiga al Qur’an”.”[9]



2. Hadits Abu Sa’id al Khudri t pula, ia berkata:



قَالَ النَّبِيُّ r لأَصْحَابِهِ: ((أَيُـعْجِزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَقْرَأَ ثُلُثَ القُرْآنِ فِي لَيْلَةٍ))، فَـشَقَّ ذَلِكَ عَلَيْهِمْ، وَقَالُوا: أَيُّـنَا يُطِيْقُ ذَلِكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ فَقَالَ: ((اللهُ الوَاحِدُ الصَّمَدُ، ثُلُثُ القُرْآنِ)).

“Nabi r berkata kepada para sahabatnya: “Apakah seseorang dari kalian tidak mampu membaca sepertiga al Qur’an dalam satu malam (saja)?”. Hal itu membuat mereka keberatan, (sehingga) mereka pun berkata: “Siapa di antara kami yang mampu melalukan hal itu wahai Rasulullah?”. Lalu Nabi r bersabda: “Allahul Wahidush Shamad (surat al Ikhlash, Pen), (adalah) sepertiga al Qur’an”.”[10]



3. Hadits Abu ad Darda’ t, ia berkata:



عَنِ النَّبِيِّ r قَالَ: ((أَيَـعْجِزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَقْرَأَ فِي لَيْلَةٍ ثُلُثَ القُرْآنِ؟))، قَالُوْا: وَكَيْفَ يَقْرَأُ ثُلُثَ القُرْآنِ؟ قَالَ: (( ]قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ[ تَعْدِلُ ثُلُثَ القُرْآنِ)).

“Dari Nabi r, ia bersabda: “Apakah seseorang dari kalian tidak mampu membaca dalam satu malam (saja) sepertiga al Qur’an?”, mereka pun berkata: “Dan siapa (di antara kami) yang mampu membaca sepertiga al Qur’an (dalam satu malam, Pen)?”. Rasulullah r bersabda: “[قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ] sebanding dengan sepertiga al Qur’an”.”[11]



4. Hadits Abu Hurairah r, ia berkata:



قَالَ رَسُوْلُ اللهِ r: ((اِحْشِدُوْا فَإِنِّي سَأَقْرَأُ عَلَيْكُمْ ثُلُثَ القُرْآنِ))، فَحَشَدَ مَنْ حَشَدَ، ثُمَّ خَرَجَ نَبِيُّ اللهِ r فَقَرَأَ: ]قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ[، ثُمَّ دَخَلَ، فَقَالَ بَعْضُنَا لِبَعْضٍ: إِنِّي أَرَى هَذَا خَبَرٌ جَاءَهُ مِنَ السَّمَاءِ، فَذَاكَ الَّذِي أَدْخَلَهُ، ثُمَّ خَرَجَ نَبِيُّ اللهِ r فَقَالَ: ((إِنِّي قُلْتُ لَكُمْ سَأَقْرَأُ عَلَيْكُمْ ثُلُثَ القُرْآنِ، أَلاَ إِنَّهَا تَعْدِلُ ثُلُثَ القُرْآنِ)).

“Rasulullah r bersabda: “Berkumpullah kalian, karena sesungguhnya aku akan membacakan kepada kalian sepertiga al Qur’an”, maka berkumpullah orang yang berkumpul. Kemudian Nabiyullah r keluar dan membaca [قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ] (surat al Ikhlash, Pen), kemudian beliau masuk (kembali). Maka sebagian dari kami berkata kepada sebagian yang lain: “Sesungguhnya aku menganggap hal ini kabar (yang datang) dari langit, maka itulah pula yang membuat beliau masuk (kembali)”. Lalu Nabiyullah r keluar dan bersabda: “Sesungguhnya aku telah berkata kepada kalian aku akan membacakan sepertiga al Qur’an, ketahuilah sesungguhnya surat itu sebanding dengan sepertiga al Qur’an”.”[12]



Dan masih banyak lagi hadits-hadits lainnya yang semakna dengan hadits-hadits yang telah disebutkan di atas, seperti hadits Abu Ayyub al Anshari t[13], Abu Mas’ud al Anshari t[14], dan lain-lain.[15]



C. HADITS-HADITS YANG MENERANGKAN BAHWA SURAT INI MENYEBABKAN ORANG YANG MEMBACANYA MASUK SURGA



1. Hadits Abu Hurairah t, ia berkata:



أَقْبَلْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ r، فَسَمِعَ رَجُلاً يَقْرَأُ ]قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ. اللهُ الصَّمَدُ[، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ r: ((وَجَبَتْ))، قُلْتُ: وَمَا وَجَبَتْ؟ قَالَ: ((الجَـنَّةُ)).

“Aku datang bersama Rasulullah r, lalu beliau mendengar seorang membaca:

]قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ. اللهُ الصَّمَدُ[

Maka Rasulullah r bersabda: “Telah wajib”, aku berkata: “Apa yang wajib?”, beliau bersabda: “(Telah wajib baginya) surga”.”[16]



D. HADITS YANG MENERANGKAN BAHWA SURAT INI MELINDUNGI (DENGAN IZIN ALLAH) ORANG YANG MEMBACANYA, JIKA DIBACA BERSAMA SURAT AL FALAQ DAN AN NAAS



1. Hadits Uqbah bin ‘Amir al Juhani t, beliau berkata:



بَيْنَا أَنَا أَقُوْدُ بِرَسُوْلِ اللهِ r رَاحِلَتَهُ فِي غَزْوَةٍ، إِذْ قَالَ: ((يَا عُقْبَةُ، قُلْ!))، فَاسْتَمَعْتُ، ثُمَّ قَالَ: ((يَا عُقْبَةُ، قُلْ!))، فَاسْتَمَعْتُ، فَقَالَهَا الثَّالِثَةَ، فَقُلْتُ: مَا أَقُوْلُ؟ فَقَالَ: ]قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ[ فَقَرَأَ السُّوْرَةَ حَتَّى خَتَمَهَا، ثُمَّ قَرَأَ ]قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ الفَلَقِ[، وَقَرَأْتُ مَعَهُ حَتَّى خَتَمَهَا، ثُمَّ قَرَأَ ]قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ[، فَقَرَأْتُ مَعَهُ حَتَّى خَتَمَهَا، ثُمَّ قَالَ: ((مَا تَعَوَّذَ بِمِثْلِهِنَّ أَحَدٌ)).

“Tatkala aku menuntun kendaraan Rasulullah r dalam sebuah peperangan, tiba-tiba beliau berkata: “Wahai Uqbah, katakan!”, aku pun mendengarkan, kemudian beliau berkata (lagi): “Wahai Uqbah, katakan!”, aku pun mendengarkan. Dan beliau mengatakannya sampai tiga kali, lalu aku berkata: “Apa yang aku katakan?”. Beliau pun bersabda: “Katakan [قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ]”, lalu beliau membacanya sampai selesai. Kemudian beliau membaca [قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ الفَلَقِ], aku pun membacanya bersamanya hingga selesai. Kemudian beliau membaca [قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ], aku pun membacanya bersamanya hingga selesai. Kemudian beliau bersabda: “Tidak ada seorang pun yang berlindung (dari segala keburukan) seperti orang orang yang berlindung dengannya (tiga surat tersebut)”.”[17]



E. HADITS YANG MENERANGKAN KEUTAMAANNYA JIKA DIBACA BERSAMA SURAT AL FALAQ DAN AN NAAS KETIKA SEORANG HENDAK TIDUR



1. Hadits A’isyah -radhiyallahu ‘anha-, beliau berkata:



أَنَّ النَّبِيَّ r كَانَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ، ثُمَّ نَفَثَ فِيْهِمَا، فَقَرَأَ فِيْهِمَا ]قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ[، وَ ]قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ الفَلَقِ[، وَ ]قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ الـنَّاسِ[، ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا مَا اسْتَطَاعَ مِنْ جَسَدِهِ، يَبْدَأُ بِهِمَا عَلَى رَأْسِهِ وَوَجْهِهِ وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ، يَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ.

“Sesungguhnya Nabi r apabila ingin merebahkan tubuhnya (tidur) di tempat tidurnya setiap malam, beliau mengumpulkan ke dua telapak tangannya, kemudian beliau sedikit meludah padanya sambil membaca surat “Qul Huwallahu Ahad” dan “Qul A’udzu bi Rabbin Naas” dan “Qul A’udzu bi Rabbil Falaq”. Kemudian (setelah itu) beliau mengusapkan ke dua telapak tangannya ke seluruh tubuhnya yang dapat beliau jangkau. Beliau memulainya dari kepalanya, wajahnya, dan bagian depan tubuhnya. Beliau melakukannya sebanyak tiga kali.”[18]



F. HADITS-HADITS YANG MENUNJUKKAN BAHWA ORANG YANG BERDOA DENGAN MAKNA SURAT INI, AKAN DIAMPUNI DOSA-DOSANYA (DENGAN IZIN ALLAH)



1. Hadits Mihjan bin al Adru’ t, beliau berkata:



أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ r دَخَلَ المَسْجِدَ، إِذَا رَجُلٌ قَدْ قَضَى صَلاَتَهُ وَهُوَ يَتَشَهَّدُ، فَقَالَ: اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ يَا اَللهُ بِأَنَّكَ الوَاحِدُ الأَحَدُ الصَّمَدُ الَّذِي لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُواً أَحَدٌ، أَنْ تَغْفِرَ لِي ذُنُوْبِي، إِنَّكَ أَنْتَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ r: ((قَدْ غُفِرَ لَهُ))، ثَلاَثاً.

“Bahwa Rasulullah r masuk ke dalam masjid, tiba-tiba (ada) seseorang yang telah selesai dari shalatnya, dan ia sedang bertasyahhud, lalu ia berkata: “Ya Allah, sesungguhnya aku meminta (kepadaMu) bahwa sesungguhnya Engkau (adalah) Yang Maha Esa, Yang bergantung (kepadaMu) segala sesuatu, Yang tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara denganNya, ampunilah dosa-dosaku, (karena) sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Kemudian Rasulullah r bersabda: “Sungguh ia telah diampuni (dosa-dosanya)”, beliau mengatakannya sebanyak tiga kali.”[19]



2. Hadits Buraidah bin al Hushaib al Aslami t, beliau berkata:



أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ r سَمِعَ رَجُلاً يَقُوْلُ: اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ أَنِّي أَشْهَدُ أَنَّكَ أَنْتَ اللهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ الأَحَدُ الصَّمَدُ الَّذِيْ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُواً أَحَدٌ، فَقَالَ: ((لَقَدْ سَأَلْتَ اللهَ بِالاِسْمِ الَّذِي إِذَا سُئِلَ بِهِ أَعْطَى، وَإِذَا دُعِيَ بِهِ أَجَابَ)).

“Bahwa Rasulullah r mendengar seseorang berkata: “Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepadaMu bahwa diriku bersaksi sesungguhnya Engkau (adalah) Allah yang tidak ada ilah yang haq disembah kecuali Engkau Yang Maha Esa, Yang bergantung (kepadaMu) segala sesuatu, Yang tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara denganNya”. Kemudian Rasulullah r bersabda: “Sungguh dirimu telah meminta kepada Allah dengan namaNya yang jika Ia dimintai dengannya (pasti akan) memberi, dan jika Ia diseru dengannya (pasti akan) menjawab/mengabulkannya”.”[20]



Inilah sebagian hadits-hadits shahih yang menerangkan keutamaan-keutamaan surat yang mulia ini. Dan masih banyak hadits-hadits lainnya yang menerangkan keutamaan-keutamaan surat ini, namun kebanyakannya adalah dha’if (lemah) atau bahkan maudhu’ (palsu).[21] Sehingga, sudah cukuplah bagi kita hadits-hadits yang shahih saja tanpa hadits-hadits yang dha’if, terlebih lagi yang maudhu’.



Adapun ayat pertama pada surat yang mulia ini, maka maksudnya adalah Allah memerintahkan kepada RasulNya Muhammad r agar beliau mengatakan dengan perkataan yang pasti dan yakin serta memahami maknanya kepada orang-orang yang bertanya kepadamu tentang Rabbmu bahwa Allah I adalah Maha Esa dan ganjil. Dialah Allah U Yang Maha Satu, Yang Maha Sempurna, tidak ada suatu apapun yang menyerupaiNya, tidak ada suatu apapun yang menyamaiNya, tidak ada sekutu bagiNya. Dialah Allah U Yang memiliki seluruh nama-nama yang paling baik, sifat-sifat yang paling tinggi dan mulia, Yang memiliki seluruh perbuatan-perbuatan yang suci dan sangat baik. Dialah Allah U Yang berhak disembah, karena tidak ada ilah yang berhak untuk disembah kecuali Allah I.[22]

Pada ayat yang ke dua, Allah I berfirman: [اللَّهُ الصَّمَدُ].

Di dalam terjemahan al Qur’an,[23] ayat ini diterjemahkan: “Allah adalah Tuhan yang bergantung kepadaNya segala sesuatu”. Dan ini adalah salah satu penafsiran yang benar dari para ulama terhadap makna ash Shamad (الصَّمَدُ).[24]

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as Sa’di berkata: “(Yaitu) Allah I adalah (Ilah) yang dituju oleh (seluruh makhlukNya) dalam seluruh kebutuhannya. Maka, seluruh penghuni alam semesta ini, yang di atas maupun yang di bawah benar-benar sangat membutuhkan Allah U. Mereka seluruhnya meminta kebutuhan-kebutuhan dan kepentingan-kepentingan mereka. Karena Dialah Yang Maha Sempurna segala sifatNya, Yang Maha Mengetahui dan Maha Sempurna pengetahuan dan ilmuNya, Yang Maha Lemah Lembut dan Maha Sempurna kelemahlembutanNya, Yang Maha Pengasih dan Penyayang dan Maha Sempurna kasih sayangNya, dan begitulah seterusnya sifat-sifatNya”.[25]

Kemudian pada ayat ke tiga, Allah melanjutkan firmanNya:

] لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ [

“Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan”.

Al Imam ath Thabari berkata: “(Yaitu) Allah tidak akan binasa, karena tidak ada sesuatu makhluk pun yang melahirkan melainkan ia pasti binasa (mati) … Dan Ia tidak pernah diciptakan, bukan sesuatu yang (tersifati dengan) tidak ada, kemudian ada, karena segala sesuatu yang dilahirkan asalnya adalah tidak ada, kemudian ada. Atau ia terjadi/tercipta dengan baru dan asalnya tidak ada. Namun, Allah (tidak seperti itu), Allah tidak didahului dengan sifat tidak ada, dan Allah pun akan tetap kekal dan ada, tidak akan pernah binasa”.[26]

Al Imam al Qurthubi berkata: “Ibnu ‘Abbas berkata: Lam yalid (لَمْ يَلِدْ), Allah tidak beranak/tidak melahirkan seperti Maryam melahirkan. Wa lam yulad (وَلَمْ يُولَدْ), Allah tidak diperanakkan/tidak dilahirkan seperti ‘Isa dan ‘Uzair (dilahirkan). Dan ini adalah bantahan terhadap Nashara, dan terhadap orang-orang yang berkata bahwa ‘Uzair adalah anak Allah”.[27]

Al Hafizh Ibnu Katsir berkata: “(Yaitu) Allah tidak memiliki anak, orang tua, dan istri”.[28]



Dan di akhir surat yang mulia ini Allah berfirman:

]وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُواً أَحَدٌ[

“Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia”.[29]

Al Hafizh Ibnu Katsir berkata:

“(Ayat) ini semakna dengan firman Allah:

بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ أَنَّى يَكُونُ لَهُ وَلَدٌ وَلَمْ تَكُن لَّهُ صَاحِبَةٌ وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ وهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ.

“Dia pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai istri. Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia mengetahui segala sesuatu”. (QS al An’am: 101).

Yaitu, Dialah Raja Yang memiliki segala sesuatu, dan Yang menciptakan seluruhnya. Maka, bagaimana mungkin Dia memiliki serikat/bandingan yang semisal/serupa denganNya, atau kerabat yang mendekati derajatNya? Maha Suci Allah (dari segala permisalan).

Dan Allah (juga) berfirman:

وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَداً . لَقَدْ جِئْتُمْ شَيْئاً إِدّاً . تَكَادُ السَّمَاوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنشَقُّ الأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدّاً . أَنْ دَعَوْا لِلرَّحْمَنِ وَلَداً . وَمَا يَنبَغِي لِلرَّحْمَنِ أَن يَتَّخِذَ وَلَداً . إِن كُلُّ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ إِلاَّ آتِي الرَّحْمَنِ عَبْداً . لَقَدْ أَحْصَاهُمْ وَعَدَّهُمْ عَدّاً . وَكُلُّهُمْ آتِيهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَرْداً.

“(88) Dan mereka berkata: “Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak”. (89) Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar. (90) Hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh. (91) Karena mereka mendakwa Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak. (92) Dan tidak layak bagi Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak. (93) Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba. (94) Sesungguhnya Allah telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti. (95) Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri”. (QS Maryam: 88-95).

Dan Allah berfirman:

وَقَالُوا اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَداً سُبْحَانَهُ بَلْ عِبَادٌ مُّكْرَمُونَ . لاَ يَسْبِقُونَهُ بِالْقَوْلِ وَهُم بِأَمْرِهِ يَعْمَلُونَ.

“Dan mereka berkata: “Tuhan Yang Maha Pemurah telah mengambil (mempunyai) anak”, Maha Suci Allah, sebenarnya (malaikat-malaikat itu) adalah hamba-hamba yang dimuliakan. Mereka itu tidak tidak mendahuluiNya dengan perkatan dan mereka mengerjakan perintah-perintahNya”. (QS al Anbiya’: 26-27).

Dan Allah berfirman:

وَجَعَلُوا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجِنَّةِ نَسَباً وَلَقَدْ عَلِمَتِ الْجِنَّةُ إِنَّهُمْ لَمُحْضَرُونَ . سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يَصِفُونَ.

“Dan mereka adakan (hubungan) nasab antara Allah dan antara jin, dan sesungguhnya jin mengetahui bahwa mereka benar-benar akan diseret (ke neraka). Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan”. (QS ash Shaaffaat: 158-159).”[30]



Kemudian beliau al Hafizh Ibnu Katsir membawakan dua hadits shahih.

Yang pertama, hadits Abu Musa al Asy ‘ari r, ia berkata:



عَنِ النَّبِيِّ r قَالَ: ((لَيْسَ أَحَدٌ أَوْ لَيْسَ شَيْءٌ أَصْبَرَ عَلَى أَذًى سَمِعَهُ مِنَ اللهِ، إِنَّهُمْ لَيَدَّعُوْنَ لَهُ وَلَداً، وَإِنَّهُ لَيُعَافِيْهِمْ وَيَرْزُقُهُمْ)).

“Dari Nabi r bersabda, beliau bersabda: “Tidak ada seorang pun atau sesuatu pun yang lebih sabar dari Allah terhadap celaan yang ia dengarnya. Mereka (orang-orang kafir dan musyrik) mendakwa/mengklaim bahwa Allah telah mengambil (memiliki) seorang anak, akan tetapi (justru) Allah memaafkan mereka dan memberi rizki kepada mereka”.”[31]

Kedua, hadits qudsi dari Abu Hurairah t, ia berkata:



عَنِ النَّبِيِّ r قَالَ: قَالَ اللهُ: ((كَذَّبَنِي اِبْنُ آدَمَ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ ذَلِكَ، وَشَتَمَنِيْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ ذَلِكَ، فَأَمَّا تَكْذِيْبُهُ إِيَّايَ فَقَوْلُهُ لَنْ يُعِيْدَنِي كَمَا بَدَأَنِيْ وَلَيْسَ أَوَّلُ الخَلْقِ بِأَهْوَنَ عَلَيَّ مِنْ إِعَادَتِهِ، وَأَمَّا شَتْمُهُ إِيَّايَ فَقَوْلُهُ اِتَّخَذَ اللهُ وَلَداً وَأَنَا الأَحَدُ الصَّمَدُ، لَمْ أَلِدْ وَلَمْ أُوْلَدْ وَلَمْ يَكُنْ لِيْ كُفْئاً أَحَدٌ)).

“Dari Nabi r bersabda, Allah berkata: “Anak Adam telah mendustakan Aku, dan ia tidak berhak untuk berbuat demikian. Ia pun telah mencelaku, dan ia tidak berhak untuk berbuat demikian. Adapun pendustaannya terhadap Aku, perkataannya (bahwa) Allah tidak akan mengembalikan diriku sebagaimana Allah telah menciptakan diriku, dan (perkataannya bahwa) permulaan penciptaan tidak lebih mudah bagi Allah dari mengembalikannya. Adapun celaannya terhadapKu, perkataannya (bahwa) Allah telah mengambil (memiliki) seorang anak, padahal Aku (adalah) Yang Maha Esa, Yang bergantung (kepadaKu) segala sesuatu, Aku tidak beranak, tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara denganKu”.”[32]



Syaikh Abdurrahman bin Nashir as Sa’di berkata: “(Maksud ayat ini adalah) tidak ada yang serupa dan setara denganNya, baik nama-namaNya, sifat-sifatNya, maupun seluruh perbuatanNya. Jadi, surat ini mengandung tauhid al Asma’ wa ash Shifat”.[33]



Demikianlah tafsir surat yang mulia ini, mudah-mudahan Allah U senantiasa membimbing kita semua di dalam ketaatan padaNya, menjauhi kita semua dari kesyirikan, kebid’ahan, dan kemaksiatan-kemaksiatan lainnya secara umum. Dan mudah-mudahan pula tulisan ini berfaidah, menambah iman, ilmu yang bermanfaat, dan amalan-amalan shalih kita semua. Amin.

Wallahu a’la wa a’lam.



Penulis: Ustadz Abu Abdillah Arief B. bin Usman Rozali, Lc.
Sumber : www.ustadzarif.com

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites